Bangsa Yahudi Sering di Cap Kaum Yang Jenius, Apa Alasannya?

Bangsa Yahudi Sering di Cap Kaum Yang Jenius, Apa Alasannya?

January 24, 2023 0 By Majalahbet

Bangsa Yahudi Sering di Cap Kaum Yang Jenius, Apa Alasannya?

Bagi sebagian orang, kaum Yahudi dinilai identik di cap sebagai bangsa yang Jenius, Anggapan itu didukung dengan munculnya ilmuwan terkemuka hingga penguasa teknologi yang tak sedikit yang berasal dari bangsa Yahudi.

Merekalah di antaranya ada Albert Einstein, Franz Kafka, hingga CEO Facebook Mark Zuckerberg.

Kemudian Tokoh penguasa teknologi lain yakni CEO Microsoft Steve Ballmer, Co-founder Google Sergey Brin, dan pendiri perusahaan komputer Dell, Michael Dell, Keberhasilan intelektual orang Yahudi di era modern dan keunggulan mereka dalam pekerjaan di berbagai bidang sudah lama menjadi pembicaraan Dunia.

 

Pandangan soal Yahudi yang identik dengan Jenius tak serta merta muncul begitu saja, New York Times melaporkan Yahudi sebagai agama memiliki tradisi yang berbeda dari agama lainnya, Kepercayaan ini menekankan umatnya berdiskusi terkait isi Taurat, tak hanya mengamati serta mematuhi kitab itu.

Namun, semua berubah ketika Romawi menguasai Yerusalem dan Mesir pada abad pertama Sebelum Masehi.

Kemudian pada 40 M, Kaisar Caligula menerapkan kebijakan anti-Yahudi, Ia berusaha menaruh patung sendiri di Kuil Besar Yerusalem yang membuat Kericuhan pun tak terelakkan.

 

Penguasa Romawi pada waktu itu menganggap Yahudi sebagai ancaman bagi kekuasaan mereka.
Stigma tersebut berkembang dari generasi ke generasi sehingga menjadikan bangsa ini sebagai musuh utama mereka.

Lalu pada 66 Masehi, orang Yahudi memberontak, Kekaisaran Romawi merespons dengan menghancurkan Kuil Kedua dan memerangi Yahudi, Kemudian pada 70 M, orang-orang Yahudi terusir dari Yerusalem.

 

Bangsa Yahudi Sudah Terbiasa Dengan Kehidupan Yang Penuh Tantangan

Yon Machmudi seorang Pengamat yang fokus di kajian Timur Tengah dari Universitas Indonesia, mengatakan hidup bangsa Yahudi penuh tantangan sejak saat itu.

Sejak saat itu mereka memutuskan fokus pada ritual dan membaca Taurat, Kehidupan yang susah dan penuh tantangan membuatnya mengejar pendidikan [ilmu pengetahuan],” ungkap Yon, pada Jumat (20/1).

 

Penaklukan Romawi atas Yerusalem dan penghancuran Kuil mengubah “pusat gravitasi” Yudaisme.
Dari imamat atau kepemimpinan di Yerusalem menjadi komunitas rabi dan cendekiawan yang menyebar.

Artinya dari yang mulanya di kuil menjadi ruang belajar agama yang lebih luas lagi.

Dengan tidak adanya tempat ibadah, orang-orang Yahudi berusaha menciptakan alternatif lain, Di tengah kesulitan itu, bangsa Yahudi tetap membaca dan mempelajari Taurat, Untuk menjamin tradisi ini terus berlangsung, setiap laki-laki bertugas membekali anaknya sejak dini dengan kemampuan membaca dan menulis yang baik.

 

Namun, mereka menghadapi masalah lain, Untuk menanamkan melek huruf dan mengajarkan Taurat perlu biaya yang sangat tinggi, Sementara itu, banyak masyarakat Yahudi berprofesi sebagai petani dan hidup miskin.

Di masa itu, banyak orang Yahudi yang dilema: menanggung beban finansial dan pendidikan dengan berpegang teguh pada Yudaisme atau meninggalkan ajaran ini dengan demikian bisa mengurangi pengeluaran untuk literasi, Bagi orang Yahudi yang dianggap memiliki tradisi beragama yang lemah tergoda memilih alternatif yang lebih mudah.
Dengan kata lain, sebagian orang Yahudi akan berasimilasi dan menyebabkan penyusutan populasi komunitas ini.

 

Bangsa Yahudi Berjumpa Dengan Peradaban Islam

Pada pertengahan abad ke-7 atau sekitar 660 M, terjadi perjumpaan bersejarah antara orang Yahudi dan Islam, Di masa itu Dinasti Umayyah menguasai semenanjung Iberia hingga China, Dinasti Umayyah menciptakan bahasa dominan yakni Arab, lembaga, dan  jugahukum baru.

Seiring berjalannya, waktu kerajaan semakin berkembang, Mereka banyak mendirikan kota-kota baru dan memperluas industri serta perdagangan di sana.

Gelombang globalisasi dan urbanisasi itu kemudian memicu peningkatan permintaan tenaga profesional dengan keterampilan intelektual, Pengaruh perubahan tersebut sangat signifikan bagi orang Yahudi.

 

Dinasti Umayyah Runtuh dan diganti Dinasi Abasiyyah Pada 750 Masehi

Di periode 750 hingga 900 M, hampir semua orang Yahudi di Mesopotamia dan Persia meninggalkan pertanian.
Mereka kemudian pindah ke kota-kota besar Kekhalifahan Abbasiyah, dan mulai fokus dalam berbagai profesi berbasis literasi dan pendidikan, Ini dianggap jauh lebih menguntungkan daripada bertani.

Dalam buku The Chosen Few: How Education Shaped Jewish History karya Maristella Botticini dan Zvi Eckstein, yang dikutip Haaretz, menyebutkan peristiwa traumatis penghancuran kuil menyebabkan upaya mengikis buta huruf di setiap warga Yahudi meluas.

 

Proses tersebut menyiapkan orang-orang Yahudi memiliki peran dalam kebangkitan ekonomi kerajaan Muslim, karena memiliki keterampilan yang sesuai kebutuhan.

Orang-orang Yahudi kemudian pindah ke tempat-tempat seperti Yaman, Suriah, Mesir hingga Eropa Barat.
Mereka meyakini keterampilan yang dimiliki sangat dibutuhkan di bagian wilayah tersebut.

 

Pekerjaan Peminjaman Uang Bangsa Yahudi Abad 1100-1200 M

Kemudian pada abad 1100-1200 M, pemberi pinjaman uang menjadi pekerjaan khas Yahudi di Inggris, Prancis, dan Jerman, Di negara seperti Spanyol, Portugal, Italia, dan Eropa Barat lain profesi tersebut bahkan menjadi mata pencaharian utama Orang Yahudi.

Identitas yang kuat memungkinkan orang Yahudi mempertahankan ikatan primordial terlepas dari mana mereka berasal, Selain itu, ikatan tersebut berguna menegakkan perjanjian kontrak dari jauh, sesuatu yang sangat membantu dalam perdagangan.

 

Fenomena itu bisa menjadi alasan kesuksesan orang Yahudi yang memilih profesi berkaitan dengan kredit dan pasar uang.

Di sisi lain, orang Yahudi Eropa yang berprofesi sebagai peminjaman uang karena mereka dilarang menjadi anggota serikat pengrajin, Gereja-gereja di Eropa dan Islam juga melarang praktik riba.

 

Dalam buku karya Botticini dan Eckstein menjelaskan orang Yahudi di Eropa Barat menjadikan peminjaman uang sebagai pekerjaan karena mereka memiliki keterampilan dan kondisi yang tepat.

Keterampilan itu berupa kemampuan membaca dan menulis, dan kecakapan matematika.

Orang-orang Yahudi juga memiliki sarana kelembagaan untuk menegakkan kontrak terkait perputaran uang dan modal serta jaringan yang memungkinkan mereka berkomunikasi satu sama lain di antar sesama diaspora Yahudi.

Baca Juga : Penembakan Sulut Kerusuhan, Hingga Pembakaran Kios di Papua

 

Bagi kalian yang bingung mencari situs dengan Persentase menang tinggi. Kami rekomendasikan situs slot terpercaya yang memberikan bonus Welcome 100% dengan segala deposit tanpa ada potongan.

daftar sini

 

zvr
Bagaimana Reaksimu ?